This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Monday, May 28, 2012
Friday, July 9, 2010
Tips Menjadi Wartawan Yang Professional
- Pintar : Ia mampu menangkap, membaca situasi yang terjadi mengenai kapan ia harus mengambil berita dalam segala kondisi, pintar membaca maksud yang disampaikan narasumber, baik melalui bahasa tubuh atau secara lisan dari narasumber.
- Cekatan : Seorang wartawan harus lincah dalam memburu berita, harus mempunyai motto “i hate slow”, tidak boleh lamban, dan bukan tipe seorang yang pemalas.
- Jujur : yakni menulis berita untuk publik tentang sesuatu yang benar-benar ada, benar-benar terjadi, serta disertai bukti-bukti yang kongkrit dan berdasar fakta yang ia dapatkan dari lapngan.
- Fleksibel : yaitu, harus bisa mengikuti dinamika berbagai masyarakat yang ia temui dalam setiap peliputan berita, tidak boleh kaku dan “dingin”, sebab wartawan diharuskan berinteraksi dengan masyarakat dalam mencari bukti-bukti.
- Percaya Diri : Tingkat kePD-an seorang wartawan harus 100%, tanpa sikap PD, berita akan sulit didapat, karena malu bertanya pada orang lain yang mengetahui persis peristiwa yang terjadi. Ingat kata pepatah, “Malu Bertanya, Seat Di Jalan”. Tak perlu cantik atau ganteng untuk menjadi wartawan, cukup dengan PD, inner beauty akan muncul dari dalam diri kita
(sumber)
teknik menjadi seorang jurnalis yang handal
Sejak era reformasi dimulai, dunia pers menjajikan pekerjaan jurnalistik yang menantang kepada generasi muda yang terampil dan ulet. Banyak penerbit bulletin, majalah, tabloid atau Koran harian, maka banyak tenaga jurnalis dibutuhkan. Keterampilan jurnalistik harus terasah dan diasah sehingga menjadi wartawan yang professional, wartawan yang punya wawasan, wartawan yang punya kepribadian dan wartawan yang punya keahlian. Wartawan atau sering diseput kuli tinta, kuli disket atau flesh dish, harus menyadari perannnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan mengacaukan bangsa, bukan mengamankan pengacau bangsa, bukan membiarkan carut marit ketakberaturan penyelenggaraan Negara.
Era reformasi ini banyak penerbit karya jurnalisitik yang bersiupp, atau hanya berpayung UU Pers. Fred S Siebert –Thiodore Peterson dan Wilbur Schramm pernah mengatakan empat teori pers dunia.
Pertama, teori pers libertarian yang tujuan utamanya adalah mendukung dan memajukan kebijakan pemerintah yang berkuasa dan mengabdi kepada Negara dengan pencitraan.
Kedua, teori pers yang tujuan utamanya adalah memberikan informasi, menghibur, dan berjualan, tetapi terutama untuk membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintah.
Ketiga, teori pers tanggung jawab sosial (social responsibility) yang bertujuan adalah memberikan informasi, menghibur dan berjualan tetapi terutama mengangkat konflik sampai ketingkatan yang
ke empat teori pers soviet-komunis yang bertujuan untuk memberikan sumbangsih terhadap keberhasilandan keberlanjutan system sosialis Soviet dan terutama kediktatoran partai.
Jadi para jurnalis Indonesia sebaiknya menyadari perannya itu secara benar. Untuk memajukan negara ini tentu terpulang dari wartawan profesional itu sendiri menjadikan handal.
Ini beberapa teknik menjadi jurnalis handal
Teknik Reporter
Profesi reporter merupakan ujung tombak di dalam dunia jurnalistik. Bagaimana isu-isu di masyarakat dicari sumber informasinya, hingga kemudian dikemas ke dalam sebuah artikel yang menarik dan layak untuk dibaca merupakan deskripsi sederhana kerja seorang reporter. Namun di balik itu semua dibutuhkan teknik-teknik dan juga trik khusus di dalam melakukan reportase dan menulis sebuah artikel. Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara tuntas bagaimana teknik reportase, dan menulis artikel jurnalistik yang baik.
Kerja seorang reporter
Reportase merupakan pekerjaan dimana kita harus seratus persen focus dan bertanggung jawab di dalamnya. Jika kita hanya setengah2 dan tidak tuntas di dalam bekerja akan terjadi missing di masyarakat yang bisa saja menjadi masalah besar dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Namun menjadi reporter bukan melulu akan menjadi profesi yang menyebalkan dan membosankan. Itu semua tergantung dengan bagaimana kita mengerjakannya. Jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, niat yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga menjalin hubungan baik dengan orang lain, niscaya pekerjaan reporter akan menjadi profesi yang sangat menyenangkan.
a. Menanggapi isu yang berkembang
Kerja awal reporter adalah menghadapi isu-isu yang berkembang di masyarakat. Seperti contoh isu tentang aliran dan Bank Century untuk kampanye SBY. Sebagai reporter yang baik, langkah awal setelah mendengar adanya isu adalah berpikir netral. Ubah niat kita menjadi untuk mencari kebenaran bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.
b. Mencari sumber dan data terkait yang valid
Setelah menanggapi isu tersebut, ditindaklanjuti dengan mencari sumber dan data terkait yang valid. Data yang dicari bisa merupakan data primer yaitu langsung kepada narasumber terkait, dan juga data sekunder yaitu data literature yang valid dari sumber terpercaya.
c. Proses wawancara dan pencarian data literature
Proses ini merupakan proses terpenting di dalam kerja seorang reporter. Antara data primer dan data sekunder sama pentingnya, namun di dalam proses ini data primer harus didahulukan. Hal tersebut karena terkadang data sekunder dari sumber terpercaya pun bisa saja direkayasa oleh pihak tertentu. Berbeda dengan data primer, saat kita bertemu face to face dengan narasumber terkait, akan terasa atmosfer berbeda dan disinilah sifat kritis reporter diperlukan di dalam menginvestigasi narasumber.
d. Proses peredaksian.
Data yang telah didapatkan kemudian dikumpulkan, khusus untuk data primer reporter wajib untuk membuat verbatim, yaitu sebuah catatan lengkap tanya jawab pada saat melakukan wawancara. Tidak lupa data primer dan sekunder dilakukan uji cross, sehingga pastikan data sinkron sebelum masuk ke tahap penulisan artikel.
e. Proses penulisan
Proses penulisan artikel merupakan tahap akhir di dalam kerja reporter. Setelah isu ditanggapi, dicari tahu kebenarannya, dan diolah datanya tiba saatnya reporter mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Inti dari proses ini adalah berjiwa kritis. Pada proses awal tadi sempat dijelaskan bahwa niat awal kita adalah netral. Namun pada saat penulisan kita harus memberikan info sebenar-benarnya. Reporter harus mengeluarkan pemikiran kritisnya, namun tetap cerdas, mematuhi etika, dan tidak membabi buta dalam mengemukakan fakta informasi.
Teknik Jitu Dalam Pencarian Data
Telah diutarakan sebelumnya bahwa data terbagi atas data primer yang langsung kepada narasumber terkait dan data sekunder berupa data literature dari sumber yang terpercaya. Untuk tiap data tersebut terdapat tips khusus agar reporter bisa maksimal dalam bekerja.
a. Tips untuk data primer (wawancara langsung narasumber).
- Reporter harus mau bekerja keras dan berani. Sehingga siapapun narasumbernya reporter tersebut tidak gentar. Terkadang narasumber tertentu sulit untuk ditemui. Reporter yang baik harus cekatan membuat janji dengan narasumbernya, terkadang jika kita beruntung cobalah untuk datangi langsung kantornya, biasanya kesempatan untuk wawancara bisa langsung dating. Jangan jadi reporter yang malas dan manja!
- Reporter harus siap dengan pertanyaannya. Kembangkan jiwa kritis kalian pada saat wawancara. Jangan hanya mengangguk dan mudah berkata iya terhadap semua jawaban narasumber. Lagi-lagi kita harus konsentrasi penuh terhadap narasumber. Sehingga kita dapat memberikan tanggapan yang tepat pada saat itu juga.
- Reporter harus menggiring narasumber kepada permasalahan, bukan sebaliknya. Sebagai reporter kita harus bermain cantik dengan tidak to the point saat wawancara berlangsung. Hal ini untuk menghindari narasumber yang malah akan menjadi malas untuk diwawancara.
- Reporter harus efektif dan efisien dalam wawancara. Reporter harus memiliki perkiraan waktu yang tepat. Biasanya sesaat sebelum wawancara dimulai, antara reporter dan narasumber terjadi kesepakatan waktu wawancara. Reporter harus dapat memperkirakan berapa waktu untuk berbasa-basi dan berapa waktu untuk pertanyaan yang berhubungan dengan akar permasalahan.
- Reporter harus mampu mengendalikan permainan. Terkadang ada narasumber yang cenderung ingin menguasai jalannya wawancara, menjawab berputar-putar, dan mengalihkan pembicaraan. Kunci untuk menghadapi masalah ini adalah ketahuilah terlebih dahulu dasar-dasar permasalahannya, dan perbanyaklah pengalaman. Karena keahlian wawancara tidak akan muncul pada saat pertama kali. Dibutuhkan pengalaman yang banyak sehingga kita terbiasa berbincang dengan orang lain, hingga tahu psikologis orang yang kita wawancarai.
- Gunakan kalimat yang sopan dan baik, karena narasumber ingin selalu dihargai atas waktu dan kesempatan yang ia berikan untuk wawancara.
- Jadikan tiap kesempatan wawancara menjadi tempat untuk menjalin relasi. Sehingga kapanpun kita membutuhkan wawancaranya lagi, dengan senang hati narasumber yang sama akan senang hati menerima anda.
b. Tips untuk data sekunder
- Kunjungi situs online resmi, untuk mencari data terkait. Ingat data tidak boleh sembarangan!
- Jika tidak terdapat situs resmi, kunjungilah instansi terkait. Tanyakan data yang anda butuhkan saat itu juga.
- Cari data lewat buku-buku dengan kutipan dan daftar pustaka yang jelas. Coba cek melalui daftar pustaka, data-data yang mungkin berhubungan. (OS)
Semoga bermanfaat :D
(sumber)
Langkah Mudah Jadi Jurnalis Tanpa Harus Kuliah Publisistik

Menjadi jurnalis professional tidaklah gampang, banyak persyaratan dan kriteria yang harus dipenuhi, diantaranya harus memiliki kepribadian cerdas, energik dan berani. Hal itu dibutuhkan karena jurnalis akan berhadapan dengan orang-orang berintelektual tinggi seperti pejabat maupun birokrat. Disamping itu, jurnalis juga harus mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik, tepat waktu, meskipun harus menembus medan berat seperti meliput peristiwa kerusuhan, perang, tawuran, bentrokan antar kelompok, gunung meletus, dan bencana lainnya. Makanya tidak heran jika perusahaan-perusahaan media menerapkan seleksi ketat ketika merekrut para jurnalis. Nah, bagi Anda yang mengambil kuliah non-publisistik dan memiliki cita-cita jadi jurnalis, baik jurnalis TV, online, maupun cetak, ada baiknya untuk mempersiapkan diri sebelum bekerja agar tidak kaget dengan tekanan beban kerja. Untuk itu, simaklah ulasannya berikut ini. Lampaui syarat-syarat masuknya Umumnya perusahaan-perusahaan media menerapkan persyaratan standar bagi pelamar yang ingin mengisi posisi jurnalis, diantaranya nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) selama kuliah minimal 2,75 dan bahkan ada juga perusahaan yang menerapkan minimal IPK 3,00. Ditambah lagi Anda harus mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, lisan maupun tulisan. Kemudian, ketika interview, biasanya Anda akan ditanya seputar pengetahuan kejurnalistikan, bahkan jangan kaget jika diminta untuk membuat contoh tulisan, artikel, berita maupun memperagakan skill lewat uji kompetensi. Apabila hasil interview dan tes Anda dinilai memuaskan, selanjutnya tinggal mengikuti psikotes. Tes ini dalam rangka mengukur kepribadiaan dan penguasaan akademik Anda lewat serangkaian isian soal yang disediakan perusahaan. Jika semuanya mampu terlewati, Anda pasti diterima menjadi jurnalis. Ikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik Khusus untuk Anda yang masih kuliah, ada baiknya mempersiapkan diri sebelum masuk ke perusahaan media yang diinginkan lewat kegiatan seperti pers kampus, forum wartawan, komunitas jurnalis, dan pelatihan-pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh praktisi jurnalis professional. Hal ini penting untuk dapat mengenal cara kerja jurnalis, mengenal model penulisan, cara melakukan peliputan, wawancara ekslusif dan lain-lain, sehingga Anda tidak kaget lagi ketika masuk ke perusahaan media yang sudah besar. Selain bisa menambah pengetahuan tentang jurnalistik, manfaat lain dari mengikuti pelatihan jurnalistik adalah bisa saling kenal dengan para praktisi professional yang kelak bisa mereferensikan Anda bekerja di perusahaan media.
(sumber)
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
10 Tidak Boleh Buat Jurnalis
Sang kepala depot stres. Ia sedikit depresi. Otaknya menstigma bahwa semua wartawan serupa itu. Ia pun menurut. Setiap konferensi pers, ia siapkan duit. Wartawan media utama dan abal-abal dikasih duit. Semua menerima. Tanpa terkecuali. Sampai suatu waktu ada dua wartawan muda anggota AJI meliput di sana. Saat membagi amplop, dua wartawan muda itu "kabur". Sang kepala depot heran. Kok ada menolak duit. Ia kejar dua jurnalis muda itu. Bayangkan, seorang kepala depot Pertamina sampai mengejar wartawan supaya menerima uang amplop. Dua jurnalis menolak keras. Sekian alasan dilontarkan sampai ujung argumentasinya begini, "Kami anggota AJI, kami tidak bisa menerima. Kami bisa dipecat kantor kalau menerima ini." Sang kepala depot tertegun. Ia heran sekaligus senang. Ia masygul sekaligus bangga. Ia lalu bilang, "Kalau semua wartawan seperti adik-adik, aman dunia ini." Sang kepala depot kemudian berubah perspektifnya soal wartawan. Sekarang, kalau ada informasi ekskusif soal bahan bakar, soal dugaan penggelapan bahan bakar, dua wartawan itu yang pertama diajak. Sebab, sang kepala depot tahu, yang dibutuhkan jurnalis adalah informasi, bukan duit. Narasumber sangat menghargai jurnalis yang profesional. Bahasa ekstremnya, jurnalis yang permisif dengan amplop, harga dirinya sudah bisa ditakar. Paling setara seratus atau dua ratus ribu rupiah! Miris!
Kesembilan, tidak berpolitik praktis. Menjadi jurnalis bukan berarti hak politiknya tercabut. Ia boleh menyalurkan hak pilihnya pada calon legislator partai tertentu. Yang tidak diperbolehkan ialah merangkap menjadi pengurus partai. Kalau sudah mau berpolitik praktis, jelas urusannya. Ia mesti menanggalkan baju jurnalisnya. Mengapa? Sebab, kalau sampai ia masih menjadi jurnalis akan ada konflik kepentingan. Sebagai aktivis partai, ia pasti memberitakan keharuman partainya. Padahal partai berorientasi kekuasaan. Dan saat berkuasa, mengutip Lord Acton, cenderung korup atau menyeleweng. Apakah mungkin ia masih mau menulis kebobrokan partainya sendiri? Maka, di beberapa media, aturannya tegas. Pilih aktif di partai atau terus sebagai jurnalis. Meski demikian, yang sembunyi-sembunyi pun ada. Kalau ditanya aktif tidak di partai, ia cuma menjawab "cuma fans saja, bantu-bantu sedikit". Soal jurnalis alih profesi jadi politikus, tidak ada masalah. Di DPR ada banyak legislator yang bermula dari jurnalis. Ada Ramadhan Pohan dari Demokrat yang bekas Pemred Jurnal Nasional (Jurnas), ada Effendi Choirie dari PKB, Teguh Juwarno asal PAN adalah bekas jurnalis televisi, Meuthia Hafid dari Golkar adalah jurnalis andalan Metro TV. Di skop daerah juga bertebaran anggota dewan yang mengawali kiprah di masyarakat dari jurnalis. Bahkan, beberapa kepala daerah juga awalnya wartawan. Di Lampung, bekas Wakil Bupati Lampung Timur Noverisman Subing adalah koresponden salah satu harian di Jakarta. Kesepuluh, tidak boleh sombong. Poin terakhir dari sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan "nabi jurnalisme" Bill Kovach dan Tom Rosensteil ialah rendah hati. Wartawan harus rendah hati. Ia harus mengakui kesalahan jika bersalah. Ia harus sopan dalam mereportase. Ia tidak boleh sombong. Sikapnya yang sopan dalam mewawancarai, harus sama kepada setiap narasumber. Kalau ia ramah saat mewawancarai gubernur, ia juga mesti begitu saat berhadapan dengan maling atau pembunuh. Kalau ia bersikap manis saat mewawancarai kepala dinas, sama dan sebangun saat menginterviu pelacur. Sebab, buat jurnalis, semua narasumber punya kedudukan yang sama. Mereka sumber informasi. Tak lebih, tak kurang. Wartawan yang sudah puluhan tahun bekerja tetap harus memperbaiki cara bekerja, cara mewawancarai, dan cara menulis berita. Tak jadi jaminan, sudah puluhan tahun jadi wartawan, pasti hebat. Belum tentu, Bro! Jangan sombong! Kenapa ini penting? Sebab, rendah hati akan sangat berharga saat jurnalis bekerja. Wartawan itu manusia biasa yang bekerja dengan banyak keterbatasan. Boleh jadi ia salah menulis nama narasumber, keliru menulis kronologi kejadian, salah menginterpretasikan ujaran narasumber, dan sebagainya. Pada saat itulah ia dituntut rendah hati, meminta maaf atas kekeliruan yang dibuat. Dan itu bukan sesuatu yang hina. Bahkan, keluasan pandang jurnalis yang seperti itu yang disukai. Kita senang dengan teman yang acap meminta maaf saat ia bersalah. Kita pasti jengkel dengan karib yang ngotot benar padahal jelas-jelas keliru. Meralat berita, membetulkan artikel yang khilaf, meminta maaf atas kekeliruan interpretasi adalah beberapa contoh rendah hati dari seorang jurnalis. Namun, bukan berarti ia permisif dengan kesalahan narasumber dan mengikis skeptisismenya terhadap sumber berita. Saat Bondan Winarno menyusun buku soal kematian geolog Bre-X, de Guzman, ia juga bersikap rendah hati. Bahkan, meski karya Pak Bondan "Mak Nyus" itu terkategori investigasi soal kecurangan Bre-X dalam kasus emas Busang, Pak Bondan tetap rendah hati dalam mereportase. Ia bahkan mengaku secara terang-terangan bahwa ia wartawan dan akan meliput soal kematian de Guzman yang menurut dia janggal. Linda Christanty, jurnalis Aceh Feature, yang menceritakan itu kepada saya dalam sebuah kesempatan. Tegasnya, jadi jurnalis wajib rendah hati. Rendah hati takkan mengakibatkan martabat kita hilang. Justru dengan rendah hati, marwah kita sebagai wartawan tetap terjaga. Wallahualam bissawab.
(sumber)
Jurnalisme investigatif
Menurut Greence Roberts, wartawan investigatif adalah reportase, khususnya melalui kerja dan inisiatif mereka sendiri, yang artinya adalah penting bahwa beberapa individu atau organisasi ingin dirahasiakan.
Tiga elemen dasar bahwa penyelidikan itu seorang jurnalis yang bekerja, bukan laporan investigasi yang dilakukan oleh orang lain, bahwa masalah yang dilaporkan melibatkan sesuatu yang sangat penting bagi pembaca atau pemirsa dan bahwa pihak lain berusaha untuk menutupi isu publik.
Dari definisi tersebut, jelas bahwa wartawan investigasi tidak mengikuti agenda orang lain. Mereka sendiri memutuskan apa yang layak untuk dibahas, bukan karena seorag pejabat atau orang lain meminta mereka untuk menutupi sesuatu.
Unsur-unsur lain yang membedakan wartawan investigasi adalah kerahasiaan dimana berita akan tertutup dan pengelakan wartawan yang akan meliput. Menurut sebagian besar wartawan, jika pemerintah tidak menyembunyikan informasi, berita bukan berita tercakup dalam investigasi tersebut.
Menurut Roberts, jurnalisme investigasi tidak hanya kepada para politisi menjebak dalam situasi yang sangat memalukan atau kemarahan akan memusatkan perhatian pada permukaan tetapi menggali atau mengungkap penyimpangan yang ditutup-tutupi, sehingga kami dapat membantu pembaca memahami apa yang terjadi di dunia yang semakin kompleks.
Memilih Target untuk Investigasi. Sebelum operasi, wartawan investigasi harus terlebih dahulu memilih apa target penyelidikan. Beberapa tujuan selalu bernilai menyelidiki, termasuk korupsi di pemerintahan, gedung DPRD, dan lain-lain.
Mulai penyelidikan. Investigasi dimulai dengan kedatangan panggilan telepon dari seseorang yang memberikan petunjuk tentang keberadaan perbedaan dalam suatu lembaga atau institusi atau suatu tempat.
Pembicara yang ramah. Pelaporan investigatif adalah pekerjaan yang paling jurnalistik beresiko. Para pihak yang menjadi target penyelidikan sering dilakukan tidak benar tindakan terhadap media dan jurnalis yang bersangkutan. Itu sebabnya, wartawan melakukan pekerjaan investigasi harus siap menerima risiko. Ini adalah tantangan bagi para wartawan yang benar-benar ingin menegakkan integritas profesi mereka.
Membuat hipotesis. Hipotesis adalah teknik berpikir yang paling penting dalam menyelidiki. Hipotesis bahwa fungsi penting adalah untuk membantu melihat arti dari suatu obyek atau peristiwa. Misalnya, pikiran sudah siap dengan hipotesis tentang evolusi akan melakukan pengamatan berarti lebih dari sebuah perjalanan dari bidang pikiran yang tidak siap.
Hipotesis harus digunakan sebagai alat untuk mengungkap fakta-fakta baru dan bukan sebagai tujuan. Hipotesis yang disajikan di sini karena dua faktor: Pertama, hipotesis masih merupakan cara terbaik untuk mengetahui apa yang terjadi. Kedua, reportase investigasi dimulai dan diakhiri dengan asumsi.
Lima Elemen Investigasi, yaitu:
1. Mengungkap kejahatan terhadap kepentingan umum, atau tindakan yang merugikan orang lain.
2. Kasus yang mengungkapkan skala kemungkinan meluas atau sistematis (ada kaitan atau benang).
3. Menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan pemetaan masalah jelas.
4. Altor-kursi aktor yang terlibat secara lugas, didukung oleh bukti yang kuat.
5. Masyarakat dapat memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan dapat membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan.
Tanpa kelima elemen ini, sebuah laporan panjang hanya dapat disebut sebagai laporan mendalam (pelaporan mendalam).
Berita reguler
Laporan mengatakan.
Begini saja, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana (5W + IH)
Untuk informasi (data) kepada publik
Mendalam
Laporan menggambarkan
Lebih menjelaskan bagaimana dan mengapa (bagaimana dan mengapa)
Memberikan PENGETAHUAN dan pemahaman
Penyelidikan
Laporan menunjukkan
Lebih menunjukkan apa dan siapa (apa dan siapa)
Terungkap dan meluruskan masalah bergerak maju untuk pertanyaan: bagaimana bisa, seberapa jauh, dan siapa saja.
Lima modal dasar dalam penyelidikan:
1. Kemauan, ketekunan, dan keberanian.
2. Jaringan yang luas.
3. Meningkatkan pengetahuan yang memadai.
4. Keterampilan untuk mempersiapkan dan mengemas laporan.
5. Mendukung lembaga-lembaga media.
Tanpa pembedaan jenis media (cetak, radio, televisi), setelah menentukan topik dan mengukur masalah berat (assessment), maka perencanaan garis besar dalam sebuah proyek investigasi adalah sebagai berikut:
• Membentuk tim (multi-spesialisasi).
• Melakukan penelitian, pengamatan awal, atau survei.
• Menentukann angle (fokus) dan memutuskan hipotesis.
• Merancang pelaksanaan strategi (teknik. logistik, dll)
• Menyiapkan skenario pasca-publikasi.
Tiga Elemen dalam implementasi atau pelaksanaan Investigasi:
1. Tahap: mencari bukti dan kesaksian.
2. Metode: isi dokumen, browsing.
3. Teknik: menyamar, observasi, pengawasan, tertanam, atau rendam.
Lima Elemen Investigasi Strategis:
1. Ditetapkan berurutan.
2. Metode yang digunakan.
3. Teknik yang digunakan.
4. Pemilihan sumber daya manusia.
5. Logistik seperti, keuangan, peralatan dan lain-lainnya.
Elemen awal yang mempengaruhi kepentingan pemirsa televisi / pendengar:
1. Gambar atau suara yang menarik perhatian.
2. Relevansi berita dengan kehidupan sehari-hari mereka.
3. Pengantar sebuah cerita yang menarik.
4. Pihak berwenang presenter atau penyiar yang disampaikan cerita.
Menyiapkan laporan investigasi publik diajak berjalan melalui rute yang sama dengan yang kami telah berlalu sampai kita memahami masalah.
(sumber)
7 Pedoman Seorang Jurnalis Hebat yang Harus ditanamkan
Selalulah tanamkan dalam diri anda bahwa anda adalah seorang jurnalis dan reporter yang hebat di manapun dan kapanpun. Sehingga tak ada masalah bagi anda dengan dunia kejurnalistikan, dan siap untuk profesional sebagai jurnalis.
Ingatlah yang dihargai oleh khalayak adalah karya yang berkualitas. Maka, motivasilah diri sendiri hingga anda memiliki loyalitas dan kualitas tinggi terhadap profesi jurnalistik.
Jangan pernah membuat berita yang meiliki unsur syara atau palsu atau juga isu yang kurang jelas, apalagi menyelipkan kebohongan. Tulislah berita sesuai dengan apa adanya serta tetap berimbang (balance, tidak memihak, akurat dan terpercaya).
Asah terus latih pengetahuan umum anda dan belajar mempertajam insting jurnalis. Jadilah seseorang jurnalis yang baik, unik, dan bernilai bagi khalayak sekitar.
Jika anda mempunyai kesungguhan ingin jadi jurnalis, mulai lah dari sekarang untuk mempublikasikan karya-karya melalui blog. Buat lah blog pribadi, kemudian aktif berinteraksi dalam dunia blog tersebut dengan mengisi kejadian-kejadian sekitar, seperti future, news, cerpen, maupun karya tulis lainnya agar anda terbiasa dengan kegiatan tulis menulis.
Belajar dan berani untuk membuat opini/pendapat yang berbeda. Maksudnya, buatlah opini atau karya-karya yang bersifat inspiratif, baru, dan informatif.
Selalu lah membaca buku-buku, artikel, dan karya tulis lainnya. Terutama karya tulis dan buku-buku yang berkualitas, seperti tulisan yang bersifat edukatif, inspiratif, dan informatif.
Bila ketujuh pedoman tersebut ditanampakan sejak awal menjadi jurnalis, maka kehebatan seorang jurnalis tersebut akan semakin kuat dan mantap.
(sumber)










