This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, July 19, 2012

BAHASA JURNALISTIK 3

Berikut ini adalah materi Bahasa Jurnalistik yang disampaikan pada Pelatihan Jurnalistik STMI yang disusun oleh Epung Saepudin (Eks-Jurnalis KONTAN)

(Untuk materinya bisa diunduh langsung klik aja disini)

BAHASA JURNALISTIK INDONESIA

          Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor.
          Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan. (...... Untuk lanjutan materinya Klik Sini)


(Materi ini ditulis oleh Gunawan Mohammad)

BAHASA JURNALISTIK

Ciri bahasa jurnalis adalah hemat, ringkas, jelas, langsung ke persoalan pokok. Persyaratan tersebut menjadi penting, terutama dalam penulisan berita untuk surat kabar yang terbit setiap hari. Umumnya surat kabar dibaca sekali saja dan sesudah itu selesai. Tak banyak orang membaca surat kabar berkali-kali setiap hari, kecuali memang tidak ada kegiatan lain. Apalagi sekarang ini, informasi dari berbagai sumber dengan mudah dapat diperoleh. Ada berita TV, radio, majalah, atau internet. Lagi pula, surat kabar dibaca mungkin sambil menunggu pesawat, kareta api, sambil makan atau di dalam kendaraan.
Maka penggunaan bahasa yang bertele-tele, berbunga-bunga dihindari dalam penulisan berita. Sekali baca, berita sudah harus dipahami pembaca. Tidak perlu pembaca mengkerutkan dahi untuk memahami kata, kalimat, atau alinea. Kalau pembaca sampai berhenti membaca karena kurang paham makna kata, kalimat, atau alinea, sebenarnya penulisan berita boleh dikatakan gagal. Terlebih jika karena kendala itu pembaca beralih ke berita lain, atau bahkan ke surat kabar lain.
Penguasaan cara penggunaan bahasa berdasarkan kaidah standar berbahasa mutlak dimiliki jurnalis. Penting disadari, menguasai cara penggunaan bahasa berdasarkan standar bukan selalu untuk menjadi ahli bahasa. Melainkan agar jurnalis dengan mudah mampu menggunakan bahasa sesuai kaidah jurnalis tanpa menyalahi kaidah standar penggunaan bahasa.
Pertama-tama yang perlu dikuasai mencakup penggunaan ejaan dan tanda baca. Ejaan dan tanda baca, apabila salah digunakan dalam penulisan berita, sangat mengganggu pembaca. Kecepatan membaca berkurang karenanya. Persoalan ejaan mencakup bagaimana menggunakan huruf besar, imbuhan (seperti awalan, sisipan dan akhiran), singkatan ; termasuk penulisan kata asing baik dalam bentuk asli maupun dalam bentuk serapan. Persoalan tanda baca mencakup penggunaan koma, titik koma, tanda seru, tanda penghubung, tanda penghubung, tanda kutip dan sebagainya. Bagaimana menggunakan ejaan dan tanda baca, seyogyanya sudah dipelajari, atau bisa diperdalam dengan mempelajari kamus bahasa serta pedoman penggunaan bahasa yang diterbitkan lembaga pusat bahasa nasional.
Kemudian, yang tak kalah penting, adalah persoalan menggunakan kata dan kalimat. Banyak kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu melalui tulisan. Begitu pula kalimat, banyak jenis kalimat yang bisa dipakai untuk memaparkan sejumlah pokok pikiran pada tulisan. Justru karena itu, penguasaan atas penggunaan kata, penguasaan atas cara menyusun kalimat menjadi penting.

1.     Kata
Kata merupakan bagian terkecil dari kalimat. Sejumlah kata dirangkaikan secara logis untuk membentuk kalimat. Kata bisa memiliki makna tunggal, bisa mempunyai banyak arti. Kata yang digunakan ketika menyusun kalimat, dipilih berdasarkan kesesuaian antara makna yang memiliki kata itu dan pokok pikiran yang hendak diungkapkan melalui kalimat yang disusun.
Pada penulisan berita, kata digunakan untuk menggambarkan suatu fakta. Karena kata bisa memiliki banyak arti, sedang fakta harus akurat dan merupakan representasi unsur-unsur dari realitas yang diberitakan, maka kata yang dipilih untuk menggambarkan fakta itu haruslah tidak mempunyai makna ganda. Jadi perlu dipertimbangkan agar jangan sampai terjadi multi interpretasi dalam benak pembaca ketika membaca kata-kata tertentu.
Selain itu, kata juga memiliki keterbatasan dalam menggambarkan suatu fakta. Tidak semua kata mampu menggambarkan suatu fakta secara persis. Sebagai contoh fakta yang bersifat abstrak seringkali menimbulkan kendala ketika hendak digambarkan dengan kata tertentu, sebab kata yang dapat digunakan hanya mempunyai makna yang mendekati. Dengan kata lain, memilih kata yang digunakan untuk menyusun kalimat pada penulisan berita perlu didukung kecermatan.
Kecermatan menggunakan kata terbentuk, selain karena jurnalis memahami makna kata itu sendiri, juga melalui pemahaman atas kategori kata. Berikut ini dipaparkan beberapa kategori kata yang dapat dijadikan acuan untuk mempertimbangkan penggunaan kata pada penulisan berita.

Kata denotasi dan konotasi
Kata denotasi mengacu pada arti harfiah, yang memperlihatkan hubungan antara arti kata (ungkapan) dengan barang, orang, tempat, sifat, proses, dan kegiatan dan sebagainya di luar sistem bahasa. Contohnya, denotasi kata kuda ialah kelas hewan mamalia pemakan rumput yang dipelihara manusia untuk menarik gerobak, pengangkut barang, mengangkut barang atau untuk dikendarai.
Berbeda dengan denotasi, kata konotasi merujuk pada pertautan antara arti kata terhadap sesuatu sehingga menimbulkan nilai rasa. Contohnya mengencangkan ikat pinggang, punggung bukit.

Kata konkret dan kata abstrak.
Kata konkret mengacu ke sesuatu yang lebih spesifik. Kata konkret dapat efektif bila digunakan dalam penulisan  pengisahan (naratif) atau pemerian (deskriptif) karena merancang panca indera. Tidak semua tulisan perlu menggunakan kata konkret.
Kata abstrak merujuk ke sifat (panas, dingin, baik), nisbah (jumlah, urutan dsb) atau gagasan (keadilan dsb). Kata abstrak sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan rumit, menjelaskan perbedaan halus di antara gagasan yang bersifat teknis dan khusus.

Kata Umum dan Kata Khusus
Kata umum dipakai untuk mengungkapkan hal yang bersifat umum. Contoh pakaian (bisa baju, bisa celana). Kata khusus digunakan untuk memperinci sesuatu. Contoh: celana jeans biru menggambarkan hal yang lebih khusus ketimbang pakaian.
Kata umum tidak dengan sendirinya abstrak. Kata khusus dengan tidak sendirinya konkret.

Majas.
Majas adalah ungkapan yang membuat tulisan menjadi lebih konkret dan lebih hidup. Dalam penulisan berita, majas dapat digunakan untuk menggambarkan suatu realitas agar asosiasi pembaca terhadap realitas itu mendekati gambaran sebenarnya. Tidak ada keharusan menggunakan majas yang telah baku. Majas dapat dibentuk sendiri setelah menguasai pola pembentukan majas. Justru dengan pembentukan majas baru tulisan anda menjadi lebih menarik.
Contoh:
seperti gajah masuk kampung (majas perbandingan)
mata jarus (kiasan)
cinta buta (personifikasi)
terkejut setengah hati (hiperbola)
hasil yang tidak mengecewakan (hasil baik)
Kau sudah pulang. Maklum, baru pukul  tiga malam (ironi)
Susi dapat perunggu (medali perunggu)
Jakarta lawan Medan (pertautan, maksudnya kesebelasan Jakarta dan kesebelasan Medan)
penyesuaian harga (eufimisme)

Idiom
Tulisan bisa menarik apabila bersifat idiomatik, jadi menggunakan idiom tertentu untuk mengungkap fakta tertentu. Idiom  harus dipelajari dan dihafalkan. Tidak ada alasan logis mengapa idiom berbentuk tertentu. Contohnya rendah hati, berbesar hati dan sebagainya.

Ekonomi Kata
Kata yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu bisa dipilih, satu kata atau beberapa kata (ungkapan). Tidak selalu satu kata mampu menggambarkan suatu fakta. Untuk menggambarkan suatu fakta tertentu, terkadang diperlukan dua kata atau lebih sehingga pembaca paham bahwa fakta itulah yang dimaksud.
Penggunaan dua kata atau lebih untuk menggambarkan fakta pada penulisan berita tidak menimbulkan persoalan asal hal itu memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi selain karena prinsip hemat berbahasa yang diterapkan pada penulisan berita, juga karena ungkapan yang ringkas menyebabkan tulisan sarat informasi. Jadi, kalau ada ungkapan yang lebih ringkas tapi sarat informasi dan bisa mewakili fakta yang dipaparkan tidak perlu menggunakan ungkapan yang lebih panjang.
Contoh berikut ini memperlihatkan dua cara pengungkapan yang bermakna sama tetapi salah satu (sebelah kanan) menunjukkan bagaimana prinsip ekonomi kata digunakan sehingga membuat tulisan lebih ringkas.

melakukan penelitian atau meneliti
disebabkan oleh atau karena
mengajukan saran atau menyarankan
dst

Ekonomi kata juga dapat dicapai dengan menghindari penggunaan kata yang berfungsi sebagai pewatas atau kata keterangan secara berlebihan. Ketidaktepatan menggunakan kata pewatas, berpeluang mengurangi kekuatan atau kecermatan diksi, sekaligus tidak mengindahkan kaidah ekonomi kata. Kata pewatas yang sering disalahgunakan antara lain: cukup, relatif, pasti, sering, sangat, banyak, dan sama sekali. Contoh: cukup memuaskan (pertanyaan yang muncul: seberapa cukup?), banyak pejabat tidak bertanggung jawab (seberapa banyak?).
Kemudian, penggunaan ungkapan klise juga menyalahi kaidah ekonomi atau dan mengurangi kekuatan diksi. Contoh: arti tersendiri (apa makna ungkapan itu?), pembangunan manusia seutuhnya (apa makna pembanguan manusia seutuhnya?).
Selain itu perlu diperhatikan kecermatan pilihan kata dan ketepatan pilihan kata. Pilihan kata (diksi) yang tidak cermat berkaitan dengan pikiran yang kabur. Contoh: menduduki juara pertama (apakah maksudnya duduk di atas atau menduduki dalam pengertian secara paksa?). Sedang pilihan kata yang tidak tepat berkaitan dengan  ketidaktahuan. Contoh: merubah (maksudnya mengubah).

2. Kalimat
Menyusun kalimat bukan hanya sekadar merangkaikan kata-kata. Kata- kata harus disusun sedemikian rupa agar terbentuk kesatuan terkecil hingga kesatuan yang lebih besar.
Dalam bahasa, ada alat yang dapat digunakan untuk menyusun kalimat, antara lain susunan kata yang menempatkan kata berdasarkan urutan logis dan kata tugas.
Kalimat dapat disusun dalam sejumlah jenis. Untuk itu pemahaman tentang unsur kalimat yang membentuk kalimat dan bagaimana unsur-unsur tersebut saling dipertukarkan posisinya untuk memperlihatkan hubungan yang berbeda.

Gatra kalimat
Kemahiran menyusun kalimat dalam pelbagai variasi dapat dikuasai setelah mengenali gatra kalimat. Gatra kalimat adalah bagian kalimat yang menduduki jabatan tertentu dalam kalimat.
Tiap kalimat terdiri atas dua bagian inti yaitu gatra subjek dan gatra predikat. Gatra subjek umumnya terdiri dari kata benda dan adalah bagian yang diterangkan. Sedangkan gatra predikat dapat terdiri dari kata sifat, kata kerja, atau kata benda, dan adalah sebagai yang menerangkan.

Contoh:
Subjek                                     Predikat
Saya                                         wartawan
Saya                                         wartawan harian
Saya                                         warawan harian EKSPRESI
Orang itu                                  wartawan
Orang aneh itu                         wartawan harian
Orang berkacamata itu          wartawan harian EKSPRESI
Susunan kalimat dengan pola S-P (garta subjek didahulukan) seperti di atas dapat dibalik menjadi susunan P-S, yang disebut inversi. Dengan mengubah susunan kalimat, apa yang menyatakan subjek tidak lagi dipentingkan, tetapi lebih menonjolkan apa yang dinyatakan predikat. Pada susunan S-P, kalimat mengandung informasi. Sedang pada susunan P-S nilai emosional lebih menonjol dan nilai informasi terdesak ke belakang.

wartawan                                        Orang itu.
wartawan harian                            Orang aneh itu.
wartawan harian EKSPRESI       Orang aneh berkacamata itu.

Mengubah susunan kalimat dengan mempertukarkan posisi gatra kalimat, disebut permutasi. Permutasi gatra kalimat dapat dilakukan secara luwes. Asal diingat, gatra kalimat bisa terdiri atas satu kata atau sekelompok kata. Tidak setiap kelompok kata merupakan gatra. Karena itu yang bisa dipermutasi adalah gatra kalimat, bukan semata-mata kata  atau kelompok kata.

Perhatikan contoh berikut:
Saya dulu menjadi wartawan harian EKSPRESI di Yogyakarta sebelum Indonesia merdeka.
Saya : gatra subjek.
dulu : keterangan terhadap gatra predikat, yaitu keterangan waktu (dulu menjelaskan kapan jadi wartawan) dan disebut gatra keterangan waktu.
wartawan harian EKSPRESI : gatra predikat, yaitu keterangan tempat (di mana menjadi wartawan) dan disebut gatra keterangan tempat.
sebelum Indonesia merdeka : keterangan terhadap gatra predikat, yaitu keterangan waktu (menjelaskan kapan persisnya menjadi wartawan) dan disebut gatra keterangan waktu.

Maka, kalau gatra kalimat tersebut dipermutasi, diperoleh kemungkinan berikut:

Dulu/ wartawan harian EKSPRESI/ saya/ sebelum Indonesia merdeka/ di Yogyakarta.
Di Yogyakarta/ saya/ sebelum Indonesia merdeka/ dulu/ wartawan harian EKSPRESI.
Sebelum Indonesia merdeka/ wartawan harian EKSPRESI/ dulu/ di Yogyakarta/ saya.
Dulu/ di Yogyakarta/ saya/ wartawan harian EKSPRESI/ sebelum Indonesia merdeka.

Perhatikan bahwa setelah mengalami permutasi gatra, muncul penonjolan tertentu ketika kita membaca kalimat yang telah mengalami permutasi itu.
Penguasaan atas permutasi gatra diperlukan untuk menyusun kalimat judul yang menarik.

Kata Tugas
Kata tugas memainkan peran penting dalam pembentukan kalimat. Fungsi kata tugas adalah memperluas kalimat, menghubungkan kata-kata atau bagian kalimat dan sekaligus menentukan hubungannya.
Ada kata tugas yang menyatakan hubungan antara bagian kalimat secara eksplisit agar makna kalimat menjadi jelas. Kata depan, kata penghubung, partikel, termasuk kata tugas yang digunakan untuk tujuan ini.
Kata tugas juga menjadi penanda kata lain. Contoh: dari, pada, akan, oleh, dengan, tentang, dalam.  Semua kata tersebut dapat dipakai sebagai petunjuk kata benda.
Kata tugas dapat pula dijadikan petunjuk bagi kata kerja dan kata sifat. Misal: tidak, sedang, akan, sambil, lebih, makin, sekali.
Seperti telah dikemukakan, kata tugas digunakan untuk memperjelas hubungan antar kata, atau antar kelompok kata. Tetapi adakalanya hubungan yang dimaksud tidak perlu dinyatakan secara eksplisit, sehingga kata tugas yang biasa dipakai untuk tujuan tersebut bisa dihilangkan, sejauh tidak mengaburkan makna.

Kalimat aktif dan pasif
Kalimat aktif dan kalimat pasif dipilih berdasarkan pertimbangan apakah subjek atau objek yang dipentingkan. Subjek dalam pengertian ini adalah pelaku suatu tindakan, sedang objek adalah yang terkena tindakan.
Berita surat kabar menarik antara lain karena memaparkan tindakan, perilaku atau pendapat seseorang di tengah kehidupan. Berita tentang siapa melakukan apa terhadap siapa, merupakan konsep konvensional berita yang di nilai mampu menggugah perhatian pembaca. Perhatian pembaca dengan demikian tidak terpusat hanya pada tindakan seseorang dalam peristiwa, tetapi juga pada siapa seseorang tersebut. Artinya, subjek menjadi penting. Karena itu, kalimat yang digunakan adalah kalimat aktif.
Akan tetapi berita juga sering menempatkan siapa pelaku tidak penting, karena dianggap telah diketahui. Kalimat yang digunakan adalah kalimat pasif. Sebagai contoh: Harga BBM dinaikkan 30 persen. Kalimat ini kalimat pasif. Siapa yang menaikkan tidak penting diungkapkan karena pembaca toh tahu yang berhak menaikkan harga BBM hanyalah pemerintah.
Kemahiran menggunakan kalimat aktif dan kalimat pasif secara bergantian diperlukan jurnalis agar dapat mengembangkan seni menulis berita. Namun perlu dicermati, penggunaan kalimat pasif yang memperbolehkan peniadaan kata tugas bisa menyebabkan terjadi pengaburan makna. Contoh: Dipecat Menteri. Kalimat ini bisa berarti seseorang dipecat oleh menteri, namun bisa juga berarti seorang menteri yang dipecat.

Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
Sesuatu dapat digambarkan secara sederhana lewat kalimat tunggal yang ringkas. Jika dianggap tidak memadai untuk menampilkan gambaran yang lebih menyeluruh, kalimat tunggal dapat diperluas. Akan tetapi, jika masih belum cukup, digunakan kalimat majemuk.
Menggunakan kalimat majemuk lebih sukar dibanding menggunakan kalimat tunggal. Menggunakan kedua jenis kalimat itu secara bergantian, mempermudah penggambaran suatu peristiwa dan sekaligus membuat tulisan lebih menarik.
Perbedaaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk terletak pada jumlah pasangan S-P (subjek-predikat). Pada kalimat tunggal, pasangan S-P hanya satu sedangkan pada kalimat majemuk, pasangan S-P lebih dari satu.
Dua kalimat atau lebih dapat digabungkan dengan bermacam-macam cara menjadi kalimat majemuk. Ada kalimat majemuk yang berasal dari penggabungan beberapa kalimat tunggal yang memiliki subjek sama tetapi objeknya berbeda. Ada juga yang berasal dari penggabungan beberapa kalimat tunggal dengan subjek berbeda tetapi objek sama. Selain itu, kalimat majemuk berasal dari penggabungan kalimat tunggal dengan predikat yang sama atau keterangan yang sama.
Kalimat majemuk disebut sederajat kalau kalimat yang satu tidak merupakan bagian dari kalimat yang lain. Kalimat majemuk sederajat dihubungkan dengan kata tugas.
Kalimat mejemuk disebut bertingkat bila kalimat yang satu merupakan bagian dari yang lain kalimat yang lain. Kalimat yang menjadi bagian kalimat lain disebut anak kalimat, sedang kalimat yang lain itu disebut induk kalimat. Kalimat majemuk bertingkat juga dihubungkan kata tugas.
Permutasi gatra pada kalimat majemuk membuat susunan kalimat tidak kaku. Permutasi gatra dengan demikian memberi peluang untuk membuat susunan lebih variatif, sekaligus penonjolan tertentu bisa ditampilkan.

Kalimat langsung dan kalimat tidak langsung
Dalam penulisan berita, kalimat langsung digunakan untuk menampilkan ucapan seseorang yang dikutip persis seperti apa yang diucapkan. Ucapan yang dikutip biasanya adalah ucapan yang menonjolkan pendapat khas sesorang sekaligus menunjukkan karakter bertutur orang tersebut.
Kalimat langsung sekaligus digunakan untuk membuat variasi penulisan, berselang-seling dengan kalimat yang tak langsung, membuat tulisan lebih menarik.

Kalimat jelas dan efektif
Salah satu kesulitan pokok dalam menulis adalah bagaimana mengemukakan pikiran secara jelas dengan menggunakan kata-kata seefektif mungkin. Menyusun  kalimat pada penulisan berita tidak cukup berdasarkan bahasa yang baik dan benar. Kalimat jurnalistik haruslah komunikatif dan menarik.
Kalimat bila terlalu panjang, baik kalimat tunggal maupun kalimat majemuk, membosankan pembaca. Tetapi jika kalimat selalu pendek-pendek, juga membosankan. Menggunakan kalimat dengan subjek selalu di awal kalimat, demikian pula. Agar tulisan lebih komunikatif dan menarik, penting dikuasai kemampuan menyusun kalimat yang bervariasi. Jadi, tidak menggunakan satu pola kalimat terus-menerus.
Kalimat yang terlalu panjang dapat disederhanakan dengan menghilangkan kata-kata yang tak perlu atau dipenggal menjadi dua kalimat pendek. Tidak ada ketentuan berapa kata maksimum ada dalam satu kalimat. Kalimat panjang tidak semena-mena boleh dipenggal menjadi dua atau lebih kalimat pendek. Kalimat yang komunikatif dan menarik, tetap menjadi pertimbangan utama.  Sekadar pedoman:

Kalimat pendek             : 1-10 kata
Kalimat sedang             : 11-20 kata
Kalimat panjang            : 21-30 kata.

PENGANTAR MADING

KENAPA MADING? 
Majalah dinding (mading) adalah media informasi yang paling murah dan dekat dengan kita. Jika media ini dikemas dengan baik, unik dan serius maka mading tidak hanya sebagai media kreatifitas, tetapi juga bisa sebagai media informasi, hiburan dan pembelajaran, bahkan sebagai kontrol (pengawasan) pola hubungan sosial di sekolah.

Melalui majalah dinding, kita dapat memanfaatkan media teknologi seperti komputer, internet, foto dan alat rekam (tape recorder) hingga mengembangkan jiawa kewirausahaan siswa dalam menggali sumber dana mading melalui swadana siswa, sekolah hingga dari pemasang iklan.

Memang, hampir di setiap sekolah dijumpai adanya majalah dinding. Namun tidak semua sekolah memiliki mading yang baik, unik dan serius. Beberapa mading sekolah malah hanya sebagai papan pengumuman yang diramaikan dengan pemasangan informasi pengumuman, famplet, brosur dan buletin baik dari pihak dalam maupun luar sekolah. Padahal fungsi mading bisa dikembangkan seperti fungsi pers pada umumnya, sebagai media informasi, hiburan, pendidikan dan kontrol sosial.


KELEBIHAN MADING
Ada sejumlah alasan mengapa mading menjadi sebuah media informasi yang paling efektif yang bisa dikembangkan di sekolah daripada majalah sekolah dalam format kertas kwarto/A4. Keunggulan mading antara lain :
  • Kita bisa lebih kreatif, 
  • Medianya jadi pameran karya kita dalam mata pelajaran lain seperti kesenian, bahasa Indonesia dan sebagainya.
  • Biaya produksi lebih murah dan mudah. Kita bisa menggunakan limbah kertas dan lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai media menulis.
  • Mengembangkan ketrampilan dibidang teknologi seperti pemanfaatan komputer, printer, internet, kamera dan alat rekam dalam mencari data dan informasi.
Apa yang kita butuhkan untuk bikin mading?
PENGURUS
Jelas dibutuhkan pengurus mading agar terbitnya madding itu bisa lebih teratur dan ada evaluasinya agar jadi lebih baik selanjutnya.
RUBRIKASI
Rubrikasi menjadi penting agar mading kita bisa lebih jelas dan gak bertele-tele. Rubrikasi juga bisa menjadi identitas dari mading kita.
TEMA
Agar mading kita lebih menarik tentunya lebih baik jika materi yang ada pada mading kita satu tema.
BENTUK
Untuk menarik minat baca dari siswa lain kita mesti memperhatikan bentuk dari madding kita. Jika tidak menarik yaaa jangan salahkan jika tak ada yang membaca madding kita nantinya.
MATERI
Ini yang paling penting. gak ada materi yaaa mading kita Cuma jadi tempelan kertas dan pengumuman.
Tabik,
Widhi Maulana

Monday, May 28, 2012

Daftar Isi





Friday, July 9, 2010

Tips Menjadi Wartawan Yang Professional

Yang harus dimiliki seorang wartawan yakni :
  • Pintar : Ia mampu menangkap, membaca situasi yang terjadi mengenai kapan ia harus mengambil berita dalam segala kondisi, pintar membaca maksud yang disampaikan narasumber, baik melalui bahasa tubuh atau secara lisan dari narasumber.
  • Cekatan : Seorang wartawan harus lincah dalam memburu berita, harus mempunyai motto “i hate slow”, tidak boleh lamban, dan bukan tipe seorang yang pemalas.
  • Jujur : yakni menulis berita untuk publik tentang sesuatu yang benar-benar ada, benar-benar terjadi, serta disertai bukti-bukti yang kongkrit dan berdasar fakta yang ia dapatkan dari lapngan.
  • Fleksibel : yaitu, harus bisa mengikuti dinamika berbagai masyarakat yang ia temui dalam setiap peliputan berita, tidak boleh kaku dan “dingin”, sebab wartawan diharuskan berinteraksi dengan masyarakat dalam mencari bukti-bukti.
  • Percaya Diri : Tingkat kePD-an seorang wartawan harus 100%, tanpa sikap PD, berita akan sulit didapat, karena malu bertanya pada orang lain yang mengetahui persis peristiwa yang terjadi. Ingat kata pepatah, “Malu Bertanya, Seat Di Jalan”. Tak perlu cantik atau ganteng untuk menjadi wartawan, cukup dengan PD, inner beauty akan muncul dari dalam diri kita

(sumber)

teknik menjadi seorang jurnalis yang handal

Menjadi wartawan handal adalah sebuah cita-cita dan idealisme yang sangat layak diraih pada saat ini terutama kaum muda,begitu juga dengan saya. Profesi Jurnalis adalah sebuah pekerjaan yang sangat menantang , komplek, bergengsi, penuh resiko dan bahaya, merangsang bergairah sekaligus menebar semangat kecerdasan, profesionalisme, pengetahuan dan integritas tinggi.
Sejak era reformasi dimulai, dunia pers menjajikan pekerjaan jurnalistik yang menantang kepada generasi muda yang terampil dan ulet. Banyak penerbit bulletin, majalah, tabloid atau Koran harian, maka banyak tenaga jurnalis dibutuhkan. Keterampilan jurnalistik harus terasah dan diasah sehingga menjadi wartawan yang professional, wartawan yang punya wawasan, wartawan yang punya kepribadian dan wartawan yang punya keahlian. Wartawan atau sering diseput kuli tinta, kuli disket atau flesh dish, harus menyadari perannnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan mengacaukan bangsa, bukan mengamankan pengacau bangsa, bukan membiarkan carut marit ketakberaturan penyelenggaraan Negara.
Era reformasi ini banyak penerbit karya jurnalisitik yang bersiupp, atau hanya berpayung UU Pers. Fred S Siebert –Thiodore Peterson dan Wilbur Schramm pernah mengatakan empat teori pers dunia.
Pertama, teori pers libertarian yang tujuan utamanya adalah mendukung dan memajukan kebijakan pemerintah yang berkuasa dan mengabdi kepada Negara dengan pencitraan.
Kedua, teori pers yang tujuan utamanya adalah memberikan informasi, menghibur, dan berjualan, tetapi terutama untuk membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintah.
Ketiga, teori pers tanggung jawab sosial (social responsibility) yang bertujuan adalah memberikan informasi, menghibur dan berjualan tetapi terutama mengangkat konflik sampai ketingkatan yang
ke  empat teori pers  soviet-komunis yang bertujuan untuk memberikan sumbangsih terhadap keberhasilandan keberlanjutan system sosialis Soviet dan terutama kediktatoran partai.
Jadi para jurnalis Indonesia sebaiknya menyadari perannya itu secara benar. Untuk memajukan negara ini tentu terpulang dari wartawan profesional itu sendiri menjadikan handal.
Ini beberapa teknik menjadi jurnalis handal
Teknik Reporter

Profesi reporter merupakan ujung tombak di dalam dunia jurnalistik. Bagaimana isu-isu di masyarakat dicari sumber informasinya, hingga kemudian dikemas ke dalam sebuah artikel yang menarik dan layak untuk dibaca merupakan deskripsi sederhana kerja seorang reporter. Namun di balik itu semua dibutuhkan teknik-teknik dan juga trik khusus di dalam melakukan reportase dan menulis sebuah artikel. Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara tuntas bagaimana teknik reportase, dan menulis artikel jurnalistik yang baik.
Kerja seorang reporter

Reportase merupakan pekerjaan dimana kita harus seratus persen focus dan bertanggung jawab di dalamnya. Jika kita hanya setengah2 dan tidak tuntas di dalam bekerja akan terjadi missing di masyarakat yang bisa saja menjadi masalah besar dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Namun menjadi reporter bukan melulu akan menjadi profesi yang menyebalkan dan membosankan. Itu semua tergantung dengan bagaimana kita mengerjakannya. Jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, niat yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga menjalin hubungan baik dengan orang lain, niscaya pekerjaan reporter akan menjadi profesi yang sangat menyenangkan.

a. Menanggapi isu yang berkembang
   Kerja awal reporter adalah menghadapi isu-isu yang berkembang di   masyarakat. Seperti contoh isu tentang aliran dan Bank Century  untuk kampanye SBY. Sebagai reporter yang baik, langkah awal setelah mendengar adanya isu adalah berpikir netral. Ubah niat kita menjadi untuk mencari kebenaran bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.

b. Mencari sumber dan data terkait yang valid
   Setelah menanggapi isu tersebut, ditindaklanjuti dengan mencari sumber dan data terkait yang valid. Data yang dicari bisa merupakan data primer yaitu langsung kepada narasumber terkait, dan juga data sekunder yaitu data literature yang valid dari sumber terpercaya.

c. Proses wawancara dan pencarian data literature
   Proses ini merupakan proses terpenting di dalam kerja seorang reporter. Antara data primer dan data sekunder sama pentingnya, namun di dalam proses ini data primer harus didahulukan. Hal tersebut karena terkadang data sekunder dari sumber terpercaya pun bisa saja direkayasa oleh pihak tertentu. Berbeda dengan data primer, saat kita bertemu face to face dengan narasumber terkait, akan terasa atmosfer berbeda dan disinilah sifat kritis reporter diperlukan di dalam menginvestigasi narasumber.

d. Proses peredaksian.
    Data yang telah didapatkan kemudian dikumpulkan, khusus untuk data primer reporter wajib untuk membuat verbatim, yaitu sebuah catatan lengkap tanya jawab pada saat melakukan wawancara. Tidak lupa data primer dan sekunder dilakukan uji cross, sehingga pastikan data sinkron sebelum masuk ke tahap penulisan artikel.

e. Proses penulisan
    Proses penulisan artikel merupakan tahap akhir di dalam kerja reporter. Setelah isu ditanggapi, dicari tahu kebenarannya, dan diolah datanya tiba saatnya reporter mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Inti dari proses ini adalah berjiwa kritis. Pada proses awal tadi sempat dijelaskan bahwa niat awal kita adalah netral. Namun pada saat penulisan kita harus memberikan info sebenar-benarnya. Reporter harus mengeluarkan pemikiran kritisnya, namun tetap cerdas, mematuhi etika, dan tidak membabi buta dalam mengemukakan fakta informasi.



Teknik Jitu Dalam Pencarian Data

Telah diutarakan sebelumnya bahwa data terbagi atas data primer yang langsung kepada narasumber terkait dan data sekunder berupa data literature dari sumber yang terpercaya. Untuk tiap data tersebut terdapat tips khusus agar reporter bisa maksimal dalam bekerja.
a. Tips untuk data primer (wawancara langsung narasumber).

     - Reporter harus mau bekerja keras dan berani. Sehingga siapapun narasumbernya reporter tersebut tidak gentar. Terkadang narasumber tertentu sulit untuk ditemui. Reporter yang baik harus cekatan membuat janji dengan narasumbernya, terkadang jika kita beruntung cobalah untuk datangi langsung kantornya, biasanya kesempatan untuk wawancara bisa langsung dating. Jangan jadi reporter yang malas dan manja!

     - Reporter harus siap dengan pertanyaannya. Kembangkan jiwa kritis kalian pada saat wawancara. Jangan hanya mengangguk dan mudah berkata iya terhadap semua jawaban narasumber. Lagi-lagi kita harus konsentrasi penuh terhadap narasumber. Sehingga kita dapat memberikan tanggapan yang tepat pada saat itu juga.

     - Reporter harus menggiring narasumber kepada permasalahan, bukan sebaliknya. Sebagai reporter kita harus bermain cantik dengan tidak to the point saat wawancara berlangsung. Hal ini untuk menghindari narasumber yang malah akan menjadi malas untuk diwawancara.

     - Reporter harus efektif dan efisien dalam wawancara. Reporter harus memiliki perkiraan waktu yang tepat. Biasanya sesaat sebelum wawancara dimulai, antara reporter dan narasumber terjadi kesepakatan waktu wawancara. Reporter harus dapat memperkirakan berapa waktu untuk berbasa-basi dan berapa waktu untuk pertanyaan yang berhubungan dengan akar permasalahan.

     - Reporter harus mampu mengendalikan permainan. Terkadang ada narasumber yang cenderung ingin menguasai jalannya wawancara, menjawab berputar-putar, dan mengalihkan pembicaraan. Kunci untuk menghadapi masalah ini adalah ketahuilah terlebih dahulu dasar-dasar permasalahannya, dan perbanyaklah pengalaman. Karena keahlian wawancara tidak akan muncul pada saat pertama kali. Dibutuhkan pengalaman yang banyak sehingga kita terbiasa berbincang dengan orang lain, hingga tahu psikologis orang yang kita wawancarai.

     - Gunakan kalimat yang sopan dan baik, karena narasumber ingin selalu dihargai atas waktu dan kesempatan yang ia berikan untuk wawancara.
     - Jadikan tiap kesempatan wawancara menjadi tempat untuk menjalin relasi. Sehingga kapanpun kita membutuhkan wawancaranya lagi, dengan senang hati narasumber yang sama akan senang hati menerima anda.

b. Tips untuk data sekunder

     - Kunjungi situs online resmi, untuk mencari data terkait. Ingat data tidak boleh sembarangan!

     - Jika tidak terdapat situs resmi, kunjungilah instansi terkait. Tanyakan data yang anda butuhkan saat itu juga.

    - Cari data lewat buku-buku dengan kutipan dan daftar pustaka yang jelas. Coba cek melalui daftar pustaka, data-data yang mungkin berhubungan. (OS)
Semoga bermanfaat :D


(sumber)